Tanggal Publikasi : 22 April 2026
Puluhan mahasiswa mengikuti ACCFest Movie Day 2026 di Aula Gedung D Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) pada Kamis (22/4).
Acara ini diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Klub Nonton dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi.
Sebanyak lima film pendek diputar dalam penayangan ini, yaitu Rahasia Umum karya Zandro Z. Zayyan, Terciduk! karya Alan Dharmasaputra Wijaya, Revisi Final “Banget” karya Gitamustika Ayawardani, Ada yang Salah dengan Cinta karya Nanda Rahmadhya, serta Pelat Merah karya Pawadi Jihad.
Koordinator Program ACCFest Movie Day, Aditya Budiman, menjelaskan bahwa film merupakan media yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menilai pesan yang disampaikan melalui film lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.
“Film adalah media yang mudah untuk menyampaikan pesan antikorupsi kepada mahasiswa, remaja, bahkan masyarakat umum yang gemar menonton film,” ungkapnya berdasarkan kutipan perscomm
Aditya juga menambahkan bahwa tantangan utama terletak pada pengemasan isu agar tetap relevan bagi generasi muda. Ia menekankan pentingnya menjaga substansi agar tetap berpijak pada sembilan nilai antikorupsi.
Diskusi turut menghadirkan praktisi film, Nada Bonang, serta dosen Ilmu Komunikasi Unila, Vito Prasetya, yang membahas peran film sebagai medium edukasi dan perubahan sosial.
Vito Prasetya menyampaikan bahwa film memiliki kekuatan dalam membentuk cara pandang seseorang. Ia menyebut film mampu membangun imajinasi yang berpengaruh terhadap sikap penonton.
“Film itu membuat theater of mind karena secara tidak langsung film dapat mengubah sifat seseorang,” tuturnya berdasarkan kutipan perscomm
Ketua Umum HMJ Ilmu Komunikasi, Azzuma Zuhri Arieza Hakim, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan ruang bagi mahasiswa yang memiliki minat di bidang perfilman sekaligus menanamkan nilai antikorupsi.
“Tujuan dari screening film ini untuk teman-teman mahasiswa yang berminat dalam dunia perfilman sekaligus belajar nilai-nilai antikorupsi,” ujarnya, berdasarkan kutipan perscomm
Ia menegaskan bahwa film sebagai bagian dari seni memiliki kekuatan dalam menyuarakan isu sosial.
Menurutnya, pendekatan visual menjadi cara efektif untuk menyampaikan pesan antikorupsi kepada generasi muda.
Kegiatan ini menjadi sarana edukatif yang memanfaatkan film sebagai media komunikasi efektif dalam menyampaikan nilai antikorupsi. (Nisa Aulia Prayogandi)