Logo

Podcast Ilmu Komunikasi bersama Dr. S. Bekti Istiyanto dan Dr. Mayasari Kupas Tantangan Komunikasi di Tengah Disrupsi Teknologi

Home / Berita

Tanggal Publikasi : 25 April 2026

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Lampung (Unila) podcast tajuk “Quo Vadis Ilmu Komunikasi di Masa Transformasi Digital dalam Podcast ini menjadi ruang diskusi untuk membahas perkembangan ilmu komunikasi di tengah perubahan teknologi digital yang semakin cepat.

Dalam podcast tersebut dipandu oleh ketua jurusan ilmu komunikasi Agung Wibawa, S.Sos.I, M.Si, menyampaikan bahwa transformasi digital tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga memengaruhi perkembangan ilmu komunikasi sebagai disiplin ilmu dan praktik profesional.

Agung mengatakan, perkembangan platform digital, algoritma, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah mengubah cara pesan diproduksi dan didistribusikan. Ia juga menilai bahwa posisi ilmu komunikasi perlu dijelaskan secara sederhana agar mudah dipahami oleh mahasiswa.

“Perubahan teknologi digital hari ini tidak hanya mengubah cara kita berinteraksi, tetapi juga memengaruhi bagaimana ilmu komunikasi berkembang sebagai disiplin ilmu dan sebagai praktik profesional,” katanya dalam pembukaan podcast.

Podcast tersebut menghadirkan dua narasumber Dekan FISIP UPN Veteran Jakarta, Dr. S. Bekti Istiyanto, M.Si, dan Dekan FISIP Universitas Singaperbangsa Karawang,  Dr. Mayasari, S. S. M. Hum, Keduanya memberikan pandangan mengenai tantangan, peluang, dan arah pengembangan ilmu komunikasi pada masa transformasi digital.

Ilmu Komunikasi Menghadapi Tantangan Serius

Dalam diskusi tersebut, Dr. Bekti Istiyanto menyampaikan bahwa ilmu komunikasi sedang menghadapi tantangan besar. Ia menyinggung adanya fenomena mahasiswa yang merasa menyesal setelah memilih jurusan komunikasi karena merasa ilmu yang diperoleh belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Bekti menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi dan media berlangsung sangat cepat. Menurutnya, perubahan dari media cetak, radio, televisi, hingga internet telah membawa dampak besar terhadap praktik komunikasi.

Ia mengatakan, percepatan transformasi digital semakin terasa setelah pandemi Covid-19. Penggunaan gawai, aplikasi digital, dan berbagai platform komunikasi meningkat sangat cepat. Namun, peningkatan penggunaan teknologi tersebut tidak selalu diikuti dengan literasi digital yang memadai.

Menurut Bekti, banyak orang mampu menggunakan perangkat digital, tetapi belum tentu memahami cara menggunakannya secara tepat. Ia menilai masih ada kesenjangan antara penggunaan teknologi dan pemahaman literasi digital.

“Gap terhadap literasi penggunaan teknologi informasi sangat lambat, dan ini parah menurut saya,” kata Bekti.

Bekti secara tidak langsung menyampaikan bahwa masalah utama bukan hanya pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan pengguna dalam memahami fungsi, etika, dan tujuan penggunaan teknologi tersebut.

Lulusan Komunikasi Harus Punya Kompetensi Tambahan

Bekti juga menyoroti persoalan kompetensi lulusan ilmu komunikasi. Ia mengatakan bahwa lulusan komunikasi tidak cukup hanya menguasai kemampuan berbicara, menulis, atau tampil di depan publik. Menurutnya, mahasiswa komunikasi harus memiliki pengetahuan bidang lain agar dapat bersaing di dunia kerja.

Ia menceritakan pengalamannya ketika berdiskusi dengan seorang praktisi media. Dalam percakapan tersebut, muncul pertanyaan tentang kemampuan nyata lulusan komunikasi di dunia jurnalistik.

Bekti mengatakan, lulusan komunikasi sering dianggap mampu menulis dan berbicara, tetapi belum tentu memahami substansi bidang yang ditulis. Misalnya, ketika media membutuhkan redaktur ekonomi, perusahaan dapat lebih memilih lulusan ekonomi yang dilatih menulis daripada lulusan komunikasi yang tidak memahami ekonomi.

“Anak komunikasi itu bisa apa? Kalau disuruh nulis oke, disuruh ngomong oke, tapi mungkin kosong yang ditulisnya,” ujar Bekti menirukan pandangan praktisi media.

Pernyataan tersebut menjadi kritik terhadap pendidikan komunikasi. Secara tidak langsung, Bekti menegaskan bahwa mahasiswa komunikasi perlu dibekali kompetensi tambahan seperti ekonomi, lingkungan, teknologi, data, bisnis, pariwisata, atau bidang lain yang relevan dengan kebutuhan industri.

Ia menambahkan bahwa komunikasi tidak boleh hanya dipahami sebagai ilmu tentang pesan dan media. Ilmu komunikasi harus mampu masuk ke berbagai sektor kehidupan dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Kurikulum Komunikasi Dinilai Perlu Diperbarui

Salah satu sorotan utama dalam podcast tersebut adalah pentingnya pembaruan kurikulum. Bekti menyampaikan bahwa kurikulum komunikasi harus disusun berdasarkan dua hal, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan dunia kerja.

Menurutnya, program studi komunikasi harus melibatkan stakeholder, seperti dunia industri, pengguna lulusan, alumni, pemerintah, dan asosiasi profesi. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar kurikulum yang disusun tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Bekti mengatakan bahwa ilmu komunikasi memiliki karakter multidisipliner. Oleh karena itu, komunikasi dapat dikembangkan ke berbagai bidang, seperti komunikasi bisnis, komunikasi lingkungan, komunikasi pariwisata, komunikasi bencana, komunikasi pembangunan, komunikasi maritim, hingga komunikasi berbasis big data.

“Komunikasi ini irisan dari banyak bidang ilmu. Jadi, kita tidak bisa mengeklaim diri sebagai satu ilmu yang berdiri sendiri tanpa berhubungan dengan bidang lain,” jelasnya.

Secara tidak langsung, Bekti menilai bahwa setiap program studi komunikasi perlu memiliki kekhasan. Kekhasan tersebut dapat disesuaikan dengan potensi daerah, kebutuhan industri, dan karakteristik mahasiswa.

Dari Public Relations ke Cyber Public Relations

Bekti juga menyoroti penggunaan istilah lama dalam pendidikan komunikasi. Ia mencontohkan istilah humas yang masih banyak digunakan di perguruan tinggi, padahal dunia profesional telah berkembang ke arah corporate communication, marketing communication, digital public relations, cyber public relations, dan digital reputation management.

Menurutnya, pembaruan istilah bukan sekadar perubahan nama, melainkan menunjukkan adanya perubahan praktik, kebutuhan, dan kompetensi di dunia kerja.

Ia mengatakan bahwa dunia komunikasi saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang media relations, tetapi juga investor relations, finance communication, digital crisis management, dan communication intelligence.

“Kita masih bicara management public relations, padahal sekarang sudah bicara digital reputation management dan cyber public relations,” ujar Bekti.

Bekti secara tidak langsung menyampaikan bahwa perguruan tinggi harus lebih cepat membaca perkembangan profesi komunikasi agar mahasiswa tidak merasa asing ketika masuk ke dunia kerja.

Mahasiswa Komunikasi Perlu Memahami Dunia Digital

Dr. Mayasari memberikan pandangan yang lebih optimistis terhadap perkembangan ilmu komunikasi. Ia mengatakan bahwa transformasi digital memang menjadi tantangan, tetapi juga membuka peluang besar bagi mahasiswa komunikasi.

Menurut Mayasari, banyak mahasiswa komunikasi saat ini telah aktif menjadi selebgram, influencer, kreator konten, dan pengelola media sosial. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan praktis dalam memanfaatkan media digital.

Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan praktis saja tidak cukup. Mahasiswa tetap membutuhkan dasar keilmuan komunikasi agar dapat memahami proses produksi pesan, strategi penyampaian, serta dampak komunikasi terhadap masyarakat.

Mayasari mengatakan bahwa mahasiswa yang memiliki dasar ilmu komunikasi akan berbeda dari kreator konten biasa. Mereka tidak hanya membuat konten, tetapi juga memahami bagaimana pesan dibentuk, dipasarkan, dan dimaknai oleh audiens.

“Ilmu komunikasi saat ini bukan hanya tentang pesan dan media, tetapi juga tentang manusia, teknologi, dan pemaknaannya,” kata Mayasari.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi digital tidak boleh hanya dipahami sebagai aktivitas teknis membuat konten. Komunikasi digital juga berkaitan dengan etika, makna, relasi sosial, dan tanggung jawab terhadap publik.

Media Digital Dapat Membentuk Citra Seseorang

Dalam podcast tersebut, Mayasari juga menyinggung bagaimana media digital dapat membentuk citra seseorang. Ia mengatakan bahwa tampilan seseorang di media sosial dapat terlihat sangat baik karena strategi komunikasi yang berhasil.

Namun, citra yang ditampilkan di media digital belum tentu sama dengan kenyataan di dunia nyata. Ia menyebut bahwa dalam konteks ini, teori komunikasi seperti agenda setting dan konsep panggung depan serta panggung belakang masih relevan untuk digunakan.

Mayasari menjelaskan secara tidak langsung bahwa media digital dapat menciptakan persepsi tertentu terhadap seseorang. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi media agar tidak mudah menerima semua informasi secara mentah.

Ia mengatakan bahwa komunikasi dapat membentuk kesan, citra, bahkan kepercayaan publik. Namun, jika tidak digunakan secara etis, komunikasi juga dapat menyesatkan.

“Dengan permainan digital, yang ditampilkan dan dilihat orang-orang biasanya adalah yang bagus,” ujarnya.

Dosen Juga Harus Meningkatkan Kompetensi

Selain mahasiswa, kompetensi dosen juga menjadi perhatian dalam podcast ini. Mayasari mengatakan bahwa dosen harus terus belajar agar tidak tertinggal dari perkembangan mahasiswa dan teknologi.

Ia menyampaikan bahwa banyak mahasiswa saat ini telah memahami algoritma media sosial. Mereka mengetahui waktu terbaik untuk mengunggah konten, cara meningkatkan jumlah penonton, serta strategi untuk menarik perhatian publik.

Menurut Mayasari, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi dosen. Dosen tidak boleh hanya mengandalkan cara mengajar lama, tetapi harus mengikuti perkembangan teknologi dan media digital.

Ia mengatakan bahwa dosen perlu mengikuti pelatihan mengenai media pembelajaran digital, public speaking, kreator digital, dan berbagai kompetensi baru lainnya.

“Jangan sampai mahasiswanya sudah bisa membaca algoritma, tetapi dosennya belum bisa,” kata Mayasari.

Secara tidak langsung, ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan komunikasi sangat bergantung pada kesiapan dosen dalam mengikuti perubahan zaman.

Institusi Pendidikan Harus Serius Menyiapkan Lulusan

Diskusi tersebut juga menekankan pentingnya peran institusi pendidikan. Perguruan tinggi dinilai harus serius menyiapkan lulusan komunikasi agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

Agung Wibawa menyampaikan bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan lulusannya. Ia mengatakan bahwa dosen dan pengelola program studi sering merasa memiliki beban moral ketika mahasiswa telah lulus.

Mayasari menyetujui hal tersebut. Ia mengatakan bahwa perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa memahami profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, dan arah kompetensi yang ingin dicapai.

Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya mengetahui judul mata kuliah. Mereka juga harus memahami kemampuan apa yang harus dimiliki setelah menyelesaikan pendidikan.

“Mahasiswa harus tahu profil lulusannya mau jadi apa dan capaian pembelajarannya seperti apa,” ujar Mayasari.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan komunikasi harus lebih terbuka. Mahasiswa perlu dilibatkan dalam memberi masukan terhadap kurikulum dan proses pembelajaran.

Asosiasi dan Forum Akademik Berperan Penting

Dalam podcast tersebut, para narasumber juga membahas pentingnya peran asosiasi dan forum akademik. Mayasari mengatakan bahwa forum seperti BKS PTN Barat dan forum dekan dapat menjadi ruang berbagi pengalaman antarlembaga pendidikan.

Ia menyampaikan bahwa kampus-kampus dapat saling belajar mengenai pengembangan program studi, akreditasi, kurikulum, dan peningkatan kualitas pembelajaran.

Menurut Mayasari, forum akademik memberikan semangat bagi kampus-kampus untuk terus berkembang. Kampus yang lebih kecil dapat belajar dari kampus yang lebih besar, sementara kampus besar juga dapat memperoleh perspektif baru dari kampus lain.

“Yang penting adalah sinergitas dan kemauan untuk berbagi,” kata Mayasari.

Secara tidak langsung, Mayasari menilai bahwa kemajuan pendidikan komunikasi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan kerja sama antarperguruan tinggi, asosiasi, pemerintah, dan dunia industri.

Ilmu Komunikasi Perlu Memiliki Blueprint

Bekti menilai bahwa pendidikan komunikasi di Indonesia memerlukan arah pengembangan yang lebih jelas. Ia mengatakan bahwa perlu ada blueprint atau peta jalan pendidikan komunikasi agar pengembangan program studi lebih terarah.

Menurutnya, asosiasi seperti ASPIKOM dapat berperan dalam memberi masukan kepada pemerintah terkait kebutuhan pengembangan program studi komunikasi. Hal ini penting karena perkembangan dunia komunikasi telah melahirkan banyak bidang baru.

Bekti mengatakan bahwa nomenklatur program studi juga perlu dipertimbangkan ulang. Ia menilai bahwa beberapa nama program studi masih menggunakan istilah lama, sementara dunia kerja telah bergerak jauh lebih cepat.

“Kalau dirasa nomenklatur prodi ilmu komunikasi terbatas, kenapa tidak diperbarui?” ujarnya.

Ia secara tidak langsung menyampaikan bahwa pemerintah, asosiasi, dan perguruan tinggi perlu bekerja sama untuk membuka peluang pengembangan program studi baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Setiap Daerah Bisa Mengembangkan Kekhasan Komunikasi

Bekti juga menekankan pentingnya kekhasan lokal dalam pengembangan ilmu komunikasi. Ia mengatakan bahwa setiap daerah memiliki potensi yang berbeda sehingga program studi komunikasi tidak harus selalu meniru model yang sama.

Ia mencontohkan daerah yang memiliki potensi pariwisata dapat mengembangkan komunikasi pariwisata. Daerah yang rawan bencana dapat mengembangkan komunikasi bencana. Daerah industri dapat mengembangkan komunikasi industri.

Bekti juga menyebut contoh wilayah seperti Tual yang memiliki potensi wisata pantai. Menurutnya, ilmu komunikasi dapat berperan dalam membangun strategi promosi pariwisata melalui media, iklan, dan komunikasi digital.

“Bagaimana membangun tourism communication? Mainkan medianya, mainkan iklannya, mainkan digitalnya,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ilmu komunikasi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan daerah. Dengan demikian, setiap program studi dapat memiliki ciri khas yang membedakannya dari program studi lain.

Masa Depan Ilmu Komunikasi Tetap Cerah

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, para narasumber tetap optimistis terhadap masa depan ilmu komunikasi. Bekti mengatakan bahwa ilmu komunikasi tidak akan ditinggalkan selama mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Ia juga menilai bahwa media lama seperti televisi tidak akan sepenuhnya hilang. Namun, cara penggunaannya akan terus berubah mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

“Saya masih sangat yakin komunikasi berkembang. Sebagaimana saya yakin televisi tidak akan mati dalam 30 tahun ke depan,” ujar Bekti.

Secara tidak langsung, Bekti menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah apakah ilmu komunikasi akan hilang, melainkan bagaimana ilmu komunikasi mampu tetap relevan.

Mayasari juga menyampaikan optimisme serupa. Ia mengatakan bahwa mahasiswa komunikasi tidak perlu khawatir terhadap masa depan bidang ilmunya. Namun, mahasiswa harus terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan mengikuti perkembangan teknologi.

Mahasiswa Harus Menguasai Teknologi dan Multidisiplin Ilmu

Pada bagian akhir podcast, Bekti memberikan beberapa pesan penting. Ia mengatakan bahwa pendidikan komunikasi harus terus diperbaiki, mulai dari kurikulum, kompetensi dosen, proses pembelajaran, hingga jaringan dengan dunia kerja.

Ia juga menekankan bahwa teknologi, termasuk AI, tidak dapat ditinggalkan. Menurutnya, mahasiswa dan dosen perlu menggunakan teknologi secara tepat dan proporsional.

Bekti mengatakan bahwa mahasiswa komunikasi harus belajar secara multidisipliner. Mereka perlu memahami bidang lain agar memiliki nilai tambah ketika masuk ke dunia kerja.

“Kalau orang mengatakan kita tinggalkan AI, itu sudah ketinggalan zaman. Sekarang kita harus bisa menggunakan AI dalam proporsi yang sesungguhnya,” ujar Bekti.

Ia juga menyampaikan bahwa mahasiswa perlu dikenalkan pada istilah dan bidang baru, seperti finance communication, investor relations, digital crisis management, communication intelligence, dan big data.

Menurut Bekti, pengenalan terhadap bidang-bidang tersebut penting agar mahasiswa tidak merasa asing saat memasuki dunia kerja.

Podcast Prodi Komunikasi Unila tersebut memberikan gambaran bahwa ilmu komunikasi berada pada titik penting dalam menghadapi transformasi digital. Perubahan teknologi, perkembangan media sosial, algoritma, dan AI menuntut dunia pendidikan komunikasi untuk terus berbenah.

Melalui pandangan para narasumber, dapat disimpulkan bahwa ilmu komunikasi tetap memiliki masa depan yang cerah. Namun, masa depan tersebut harus diiringi dengan pembaruan kurikulum, peningkatan kompetensi dosen, penguatan literasi digital, keterlibatan stakeholder, serta keberanian untuk mengembangkan kekhasan sesuai kebutuhan daerah dan dunia kerja.

Mahasiswa komunikasi juga dituntut tidak hanya mampu berbicara, menulis, atau membuat konten. Mereka harus memahami substansi pesan, teknologi, manusia, makna, serta bidang-bidang lain yang dapat memperkuat kompetensi mereka.

Dengan demikian, ilmu komunikasi tidak hanya akan bertahan, tetapi juga dapat berkembang menjadi disiplin ilmu yang semakin relevan di era digital. (Taufik Hidayah)

Berita Terpopuler

  • Podcast Ilmu Komunikasi bersama Dr. S. Bekti Istiyanto dan Dr. Mayasari Kupas Tantangan Komunikasi di Tengah Disrupsi Teknologi

    Selengkapnya
  • HMJ Ilmu Komunikasi Unila Kolaborasi KPK Gelar ACCFest Movie Day 2026, Film Pendek Angkat Nilai Antikorupsi

    Selengkapnya
  • Kiprah Alumni #1 Cerita Kak Dyah R. Andrini: Dari Komunikasi ke Diplomasi Global

    Selengkapnya

Pengumuman Terbaru