Tanggal Publikasi : 14 Februari 2026
Perjalanan karier kak Dyah R. Andrini atau akrab disapa Galuh membuktikan bahwa batas antara ruang kelas dan panggung dunia sering kali hanya ditentukan oleh keberanian untuk beradaptasi ke dunia kerja. Sebagai Alumni Ilmu Komunikasi, Universitas Lampung (Unila) angkatan 1999, ia kini mengemban tugas sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) dan saat ini bersiap menjalani penempatan baru di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Praha, Republik Ceko.
Berawal dari radio kampus hingga forum multilateral internasional, kiprahnya merepresentasikan wajah lulusan komunikasi unila yang berdaya saing global.
Mengawal Diplomasi Sains dan Teknologi
Sejak empat tahun terakhir Kak Galuh bertugas sebagai Koordinator Fungsi Sains dan Teknologi di Direktorat Sosial Budaya dan Kemitraan Strategis, Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral. Ia menangani kerja sama dengan berbagai badan internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti International Telecommunication Union dan Universal Postal Union, hingga Inter-Parliamentary Union. Isu yang kak Galuh kawal tidak lagi hanya komunikasi publik, tetapi transformasi digital, tata kelola teknologi, hingga kecerdasan buatan (AI) dalam diplomasi global.
Dalam perannya, kak Galuh tidak hanya menghadiri sidang dan membaca resolusi, tetapi juga terlibat dalam perencanaan strategis dalam pengelolaan administrasi negara. Saat ini Direktorat-nya menjadi penanggung jawab pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Developing Eight (D-8) pada April 2026. Sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), ia mengawal proses perencanaan anggaran dan pengadaan kegiatan internasional tersebut. Diplomasi, baginya, adalah kombinasi antara substansi kebijakan dan ketelitian teknis tata kelola.
Fondasi dari Bangku Kuliah
Namun fondasi perjalanan itu berawal dari kampus saat masuk Ilmu Komunikasi tahun 1999, hal itu bukanlah rencana awal kak galuh, beliau merupakan lulusan jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) saat jenjang SMA yang sempat bercita-cita menjadi dokter itu justru menemukan gairahnya di dunia komunikasi. Kak galuh aktif di berbagai organisasi antarannya sebagai penyiar generasi pertama Radio Kampus unila biasa disebut (Rakanila). Dari ruang siaran sederhana, kak galuh belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang suara, melainkan tentang pesan, audiens, dan dampak.
Di bangku kuliah ia juga menggagas bidang Bahasa Inggris pertama Bernama “English Communication Club (ECC)” di bawah Himpunan Mahasiswa (Hima) sekarang Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi. Lomba pidato dan storytelling lintas fakultas ia inisiasi sebagai ruang pengembangan kapasitas mahasiswa. Pengalaman organisasi itu melatihnya membangun jejaring, membaca karakter orang, dan memahami dinamika kepemimpinan.
Berawal dari Konsultan ke Diplomat
Lulus dengan cepat dalam tiga setengah tahun kak Galuh memulai karier sebagai konsultan komunikasi di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas/Kementerian PPN) dalam proyek hibah dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Di sana ia mengalami pergeseran besar dari praktik komunikasi ke dunia perencanaan pembangunan. Kemampuan adaptasi menjadi kunci bertahan dan berkembang.
Tak lama kemudian dari itu ia diterima sebagai diplomat di Kemenlu RI. Kariernya bergerak dinamis saat itu, kak Galuh pernah bertugas di KBRI Beijing pada tahun 2011-2014, periode awal kepemimpinan Presiden Xi Jinping. Di Beijing, ia dipercaya menjadi Juru Bicara kedutaan dan saat itu yang menjadi tantangan terbesarnya adalah memahami ekosistem media Tiongkok yang berbeda dengan Indonesia, dan memastikan pesan diplomatik tersampaikan secara akurat.
Masa Tengah Pandemi Global
Penugasan berikutnya di KBRI RI Roma menjadi tahap paling emosional dalam karier kak Galuh. Saat pandemi Covid-19 melanda, Italia menjadi salah satu episentrum awal di Eropa, dengan ribuan awak kapal pesiar Warga Negara Indonesia (WNI) terjebak di kapal, dan tidak dapat segera kembali ke tanah air indonesia. Bertugas sebagai Kepala Fungsi Protokol dan Konsuler, kak Galuh dan timnya menjadi penghubung harapan antara para pekerja dan keluarga mereka di Indonesia.
Atas dedikasi dan pengabdian kak Galuh tersebut dianugerahi Hassan Wirajuda Pelindungan Award (HWPA) untuk kategori Staf Perwakilan RI (Homestaff). Menariknya, kak Galuh tidak pernah mengajukan diri untuk penghargaan tersebut. Baginya, semua yang dilakukan hanyalah pelaksanaan tugas. Namun apresiasi itu menjadi penanda bahwa kerja sunyi di balik layar tetap memiliki arti besar.
Melanjutkan Studi dalam bidang Strategic Studies dan Diplomacy
Dalam perjalanan panjang karier itu kak Galuh tetap belajar lebih ilmu akademik di Australian National University menempuh studi magister di Australia dalam bidang Strategic Studies dan Diplomacy dengan beasiswa Australian Leadership Award (ALA). Ketertarikannya pada isu perdamaian dan keamanan internasional memperluas perspektifnya tentang hubungan antarnegara. Meski demikian, kak Galuh menegaskan bahwa ilmu komunikasi tetap menjadi fondasi utamanya. Diplomasi memerlukan kemampuan membaca situasi, memahami pesan implisit, serta memilih kata dengan presisi.
Menurut kak Galuh, keberhasilan kariernya lebih banyak ditentukan oleh kemampuan beradaptasi daripada sekadar kompetensi teknis. Ia memperkirakan ilmu formal hanya seperempat dari bekal hidup professional, sisanya adalah pengalaman organisasi, jejaring, kemauan terus belajar. Ketertarikannya pada bahasa asing seperti Mandarin dan Prancis turut membuka peluang penugasan internasional dirinya.
Pesan Kak Galuh Kepada Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Kisah Dyah Galuh menjadi refleksi bahwa lulusan Ilmu Komunikasi memiliki spektrum karier yang luas dari ruang siaran kampus hingga meja perundingan internasional, dan kompetensi komunikasi tetap penting. Jurusan bukanlah batas, melainkan titik awal perjalanan.
Menjelang keberangkatannya ke Praha, Kak Galuh menutup satu fase pengabdian dan membuka babak baru diplomasi Indonesia. Kiprahnya menjadi inspirasi bahwa alumni Ilmu Komunikasi tidak hanya hadir di ruang redaksi atau industri kreatif, tetapi juga di garis depan hubungan internasional, membawa nama bangsa di panggung dunia. (Taufik Hidayah)