Tanggal Publikasi : 30 April 2026
Bermula dari rasa penasaran pada animasi dan visual effect Muhammad Fikri sapaan akrab Fikri membangun jalannya sendiri hingga terlibat dalam berbagai proyek besar, bekerja dengan tim internasional, dan menjadikan AI sebagai bagian dari rekan kerja dalam proses kreatifnya.
Tidak semua perjalanan karier dimulai dari pilihan pertama bagi Fikri, alumni Ilmu Komunikasi yang juga sebagai ketua Angkatan 2021 kini menekuni dunia visual effect (VFX) dan AI video editing, jalan menuju industri kreatif justru lahir dari keputusan yang awalnya tidak sepenuhnya direncanakan oleh dirinya (Fikri).
Sebelum memilih Keputusan untuk berkuliah di program studi (prodi) Ilmu Komunikasi, Fikri sempat ingin melanjutkan studi ke ISI Yogyakarta . Dunia film sudah lama menarik perhatiannya. Namun, pertimbangan demi pertimbangan membuat rencana itu harus dialihkan ke prodi lain. Ia kemudian memilih Ilmu Komunikasi, sebuah jurusan yang pada awalnya menjadi pilihan kedua, tetapi justru ikut membentuk cara berpikir, berbicara, dan bekerja dalam perjalanan seorang Fikri.
“Awalnya bukan pilihan pertama ke ilmu komunikasi, maunya ke Institut Kesenian Jogja, tapi karena ada beberapa hal, akhirnya masuk Ilmu Komunikasi,” ungkap Fikri.
Keputusan itu menjadi titik penting dalam perjalanannya dalam mengukir karier di Ilmu Komunikasi, ia tidak hanya belajar teori komunikasi, tetapi juga menemukan ruang untuk mengasah keberanian, struktur berpikir, relasi, dan kemampuan membaca peluang.
Ilmu Komunikasi, Pilihan Kedua yang Membentuk Cara Bicara
Fikri membayangkan saat pertama kali masuk kuliah kehidupan seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi akan berjalan cukup santai Ia berharap tetap bisa kuliah sambil mengerjakan proyek kreatif di luar kampus. Harapan itu sebagian besar terwujud. Namun, dalam perjalanannya, ia menyadari bahwa kuliah tidak hanya soal datang ke kelas dan menyelesaikan tugas tugas kuliah.
Salah satu hal paling berharga yang Fikri dapatkan dari Ilmu Komunikasi adalah kemampuan untuk berbicara lebih terstruktur dan termanajemen, Ia mengaku sejak dulu sudah cukup percaya diri ketika berbicara akan tetapi, rasa percaya diri saja tidak cukup jika gagasan yang disampaikan tidak tersusun dengan baik.
Melalui perkuliahan terutama mata kuliah yang menuntut untuk tampil dan berbicara di depan orang lain, ia belajar pemilihan diksi, mengatur alur bicara, dan menyampaikan pesan dengan lebih jelas.
“Kalau kurang percaya diri enggak, gua dari dulu kepedean. Tapi yang gua dapat di Ilmu Komunikasi itu gua bisa ngomong lebih terstruktur,” katanya.
Kemampuan itu kemudian menjadi bekal penting ketika berhadapan dengan organisasi, teman satu tim, klien, hingga lingkungan kerja.
Masa Ketua Angkatan yang Tidak Pernah Direncanakan
Fikri tidak pernah membayangkan dirinya menjadi Ketua Angkatan (Ketang) waktu itu, bahkan mengaku tidak memiliki niat khusus untuk mencalonkan diri sebagai ketang. Semuanya bermula ketika teman-teman kelasnya mengusulkan Namanya pada saat pencalonan ketua Angkatan sewaktu mahasiswa baru (maba).
Alih-alih menolak, Fikri memilih menerima kepercayaan itu yang dipercayakan oleh rekan Angkatan 2021. Baginya, ketika seseorang dipercaya oleh banyak orang, berarti ada potensi yang mungkin belum ia sadari sendiri.
“Dengan mereka nyalonin gua, berarti mereka melihat ada sesuatu dalam diri gua yang mungkin gua sendiri nggak sadar. Jadi ya udah, gua kasih yang terbaik,” ujarnya.
Peran sebagai ketua angkatan membuat masa kuliahnya jauh dari kata pasif Ia harus terlibat dalam banyak kegiatan, mengurus berbagai urusan angkatan, membangun komunikasi dengan banyak pihak, dan membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan pekerjaan.
Awalnya Fikri membayangkan dirinya hanya ingin sebagai mahasiswa kuliah pulang (kupu-kupu), Namun, kenyataan berkata lain. Ia justru menjadi salah satu orang berpengaruh dan aktif di angkatan dan organisasi.
Tentang Teman, Circle, dan Disiplin
Tentu dalam perjalanan masa perkuliahan Fikri menyadari bahwa lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar dalam pergaulan. Menurutnya, teman kuliah bukan hanya mereka yang menemani nongkrong atau mengisi waktu luang, tetapi juga orang-orang yang bisa memengaruhi cara berpikir dan arah hidup seseorang.
Ia menilai circle yang baik adalah circle yang mampu mendorong satu sama lain untuk berkembang. Tidak hanya membicarakan kesenangan, tetapi juga masa depan, skripsi, karier, dan target hidup setelah lulus nantinya.
Bagi Fikri mahasiswa harus paham bahwa masa kuliah berjalan sangat cepat, Ada fase untuk aktif di organisasi, ada fase untuk memperluas relasi, dan ada pula fase untuk fokus menyelesaikan tanggung jawab akademik.
“Mahasiswa harus punya tanggung jawab ke dirinya sendiri. Disiplin itu paling penting karena susah nyari disiplin dari orang lain,” tegasnya.
Menurutnya, organisasi memang penting. Namun, akademik tetap harus menjadi prioritas utama. Sebab, sejak awal seseorang masuk kuliah untuk belajar dan menyelesaikan studi, bukan untuk tenggelam terlalu lama dalam organisasi.
Dari Ketertarikan Visual Sejak Kecil
Ketertarikan Fikri terhadap visual tidak muncul secara tiba-tiba, sejak kecil ia sudah menyukai film, animasi, dan tayangan yang memiliki kekuatan gambar seperti Film-film Hollywood, animasi, dan konten di YouTube menjadi pintu awal yang memperkenalkannya.
Semasa jenjang sekolah SMP, Fikri mulai belajar membuat animasi pertamanya Awalnya, ia mengenal animasi 2D Stickman dari channel Alan Becker. Dengan bantuan alat bantu buat animasi graphic tablet. Namun, ketika alat itu rusak, ia tidak berhenti sana. Ia justru mencari jalan lain.
Dari YouTube sendiri Fikri menemukan animasi Minecraft dan mulai mengenal dunia animasi 3D dari channel Black Plasma Studio. Ia belajar bahwa animasi 3D bisa dibuat dengan mouse, keyboard, dan software seperti Blender.
Masalahnya perangkat yang ia punya saat itu jauh dari kata mumpuni dengan Laptop yang digunakan memiliki spesifikasi sangat terbatas. Untuk merender satu frame saja, ia bisa menunggu sangat lama. Bahkan, untuk video singkat berdurasi kurang dari satu menit, proses render bisa memakan waktu berhari-hari. Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti di tahap sulit.
Belajar di Warnet, Merender Berhari-hari
Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan Fikri adalah kisahnya berawal belajar dari perangkat seadanya ketika laptopnya rusak karena terlalu sering dipaksa merender, ia tidak kehilangan cara untuk bisa selalu belajar setiap situasi
Selama laptopnya diperbaiki Fikri pergi ke warnet. di sana, ia menggunakan komputer itu untuk membuat animasi, meski harus diam-diam karena aktivitas itu tidak sepenuhnya diperbolehkan oleh operator warnet waktu itu.
Keterbatasan alat, waktu, dan tempat tidak menghentikan rasa ingin tahunya Ia terus belajar, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Untuk meningkatkan perangkat kerjanya Fikri menabung sedikit demi sedikit uangnya. Ia pernah membuka jasa percetakan, jasa memperbaiki printer, hingga mengumpulkan uang dari berbagai cara agar bisa membeli PC yang gahar. Dari laptop yang membutuhkan waktu sangat lama untuk render, perlahan ia mampu meningkatkan perangkatnya hingga pekerjaan menjadi jauh lebih efisien.
Perjalanan itu membentuk satu prinsip penting dalam dirinya kalau ingin berkembang, jangan terlalu banyak menunggu sempurna.
Ambil Dulu, Belajar Sambil Jalan
Fikri memiliki cara belajar yang cukup nekat tetapi efektif bagi dirinya Ia tidak selalu menunggu benar-benar siap sebelum menerima pekerjaan. Baginya, proyek justru bisa menjadi ruang belajar terbaik.
“Cara gua berkembang bukan belajar dulu baru kerjain proyek. Ambil proyeknya dulu, baru belajar,” katanya.
Prinsip itu membuatnya terbiasa menghadapi tantangan baru ketika diminta mengerjakan sesuatu yang belum sepenuhnya ia kuasai, ia justru mencari tutorial, mencoba sendiri, bertanya ke teman seprofesi, lalu menyelesaikan pekerjaan itu.
Dari situlah ia belajar membaca brief, memahami kebutuhan klien, menyesuaikan workflow, hingga bekerja dalam sistem profesional. Ia pernah menjadi asisten animator di channel YouTube Romansyah, bergabung dengan komunitas YouTubers Lampung, mengerjakan konten, hingga masuk ke proyek-proyek yang lebih besar.
Pengalaman lapangan bagi Fikri sering kali memberi pelajaran yang tidak selalu didapatkan di kelas.
Saat Nama Karya Fikri Muncul Di Layar Bioskop
Salah satu momen yang paling membekas bagi Fikri adalah ketika namanya muncul di credit title film bioskop KKN di Desa Penari: Luwih Dowo Luwih Medeni (2022). Setelah bertahun-tahun belajar visual effect dan editing dari bawah, momen itu menjadi bukti bahwa langkah kecil yang ia mulai sejak SMP akhirnya membawanya ke tempat yang dulu hanya ia bayangkan.
Ia ingat betul bagaimana rasanya duduk di bioskop, menunggu credit title berjalan, lalu mencari namanya di layar. Ketika nama itu muncul, ada rasa bangga yang sulit dijelaskan.
“Saat nama gua muncul di layar bioskop, rasanya senang banget. Itu pengalaman pertama yang enggak bisa digantikan,” kenangnya.
Setelah itu, Fikri terlibat dalam berbagai proyek lain namun, baginya, pengalaman pertama tetap memiliki tempat khusus. Proyek-proyek berikutnya mungkin lebih besar atau lebih beragam, tetapi rasa bangga pertama kali melihat namanya di layar bioskop tidak mudah tergantikan.
Masuk Dunia Profesional dan Belajar dari Tekanan
Perjalanan Fikri di industri kreatif tidak selalu mulus Ia pernah menghadapi revisi, deadline ketat, perbedaan pendapat, hingga tekanan dari klien. Namun, semua itu justru membentuk standar profesionalnya naik.
Ia menyadari bahwa bekerja dengan klien profesional berbeda dengan mengerjakan proyek bersama teman sendiri. Ketika bekerja dengan orang yang sudah dikenal, kesalahan mungkin lebih mudah dimaklumi. Namun, dalam dunia profesional, setiap hasil kerja dinilai dengan standar yang lebih tegas.
Dari pengalaman itu, Fikri belajar bahwa kritik bukan sekadar teguran, melainkan bahan untuk memperbaiki kualitas kerja.
Cara Bertahan dari Deadline yang Cepat
Dalam dunia editing, Fikri menilai kecepatan dan kerapian sangat menentukan. Deadline tidak bisa hanya dihadapi dengan niat, tetapi juga dengan sistem kerja yang efisien.
Ia menekankan pentingnya menguasai shortcut, merapikan timeline, memberi nama layer, mengatur folder, dan menyusun file dengan jelas. Hal-hal kecil seperti memindahkan tombol shortcut atau menata timeline menurutnya bisa menghemat banyak waktu ketika dikerjakan terus-menerus.
“Kelihatannya sepele, tapi kalau diaplikasikan ke editing, itu bisa menghemat banyak waktu,” jelasnya.
Bagi Fikri, editor yang baik bukan hanya yang mampu menghasilkan visual menarik, tetapi juga yang mampu bekerja cepat, rapi, dan tidak membuat dirinya sendiri kebingungan ketika revisi datang.
AI Bukan Musuh, Tapi Alat Kerja
Fikri memilih untuk tidak memusuhi AI di tengah berkembangnya kecerdasan buatan, Ia justru melihat AI sebagai alat yang dapat membantu pekerjaan kreatif menjadi lebih efisien.
Menurutnya, editor tidak akan semata-mata digantikan oleh AI yang lebih mungkin terjadi adalah editor tergantikan oleh orang lain yang lebih mampu memanfaatkan AI.
“Lu bukan digantikan sama AI, tapi digantikan sama orang yang pakai AI,” ujarnya.
Fikri sendiri sudah menggunakan teknologi berbasis AI sejak 2019. AI dapat membantu banyak hal, mulai dari audio, dubbing, visual, hingga kebutuhan produksi lainnya. Namun, ia menegaskan bahwa hasil terbaik tetap datang dari orang yang memahami dasar visual, editing, dan storytelling.
Orang yang hanya menggunakan AI tanpa pemahaman kreatif akan menghasilkan karya yang berbeda dibanding mereka yang sudah memiliki pengalaman teknis dan estetis.
Industri Kreatif Butuh Banyak Skill
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang ingin masuk ke industri kreatif digital, Fikri menyarankan agar tidak hanya fokus pada satu bidang sejak awal. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami dasar-dasar keilmuan lain seperti fotografi, broadcasting, jurnalistik, advertising, public relations, hingga riset.
Semua bidang itu akan saling terhubung ketika seseorang masuk ke dunia kreatif.
“Belajar semuanya, tapi satu bidang harus diasah lebih tajam,” pesannya.
Selain kemampuan teknis, Fikri menyebut beberapa skill penting yang harus dimiliki, seperti memahami brief, menerjemahkan ide menjadi visual, manajemen waktu, negosiasi, public speaking, percaya diri, dan kemampuan menerima revisi.
Baginya, editor atau pekerja kreatif tidak cukup hanya jago software. Mereka juga harus mampu menjelaskan ide, meyakinkan klien, dan menjaga kualitas komunikasi.
Bekerja dengan Tim Internasional
Pengalaman bekerja dengan tim internasional memberi warna baru dalam karier Fikri, Ia merasakan pola kerja yang berbeda, terutama dalam hal komunikasi dan ekspektasi.
Menurutnya, klien luar negeri cenderung lebih langsung dalam menyampaikan keinginan. Mereka tidak terlalu banyak berbasa-basi ketika ada hal yang perlu diperbaiki. Di satu sisi, cara komunikasi itu bisa terasa keras. Namun, di sisi lain, arahnya menjadi lebih jelas.
Fikri juga melihat bahwa perusahaan luar negeri biasanya tidak terlalu mempermasalahkan alat atau software yang digunakan. Selama hasil akhirnya sesuai dengan kebutuhan, cara kerja sepenuhnya diserahkan kepada pekerja.
“Yang penting output-nya sama seperti yang mereka mau. Mau pakai apapun, selama bisa, enggak masalah,” jelasnya.
Namun, bekerja secara remote dengan tim internasional juga memiliki tantangan. Perbedaan zona waktu membuat jam kerja bisa terbalik. Selain itu, ada rasa tidak pasti karena sistem kerja seperti ini menuntut performa yang konsisten.
Harus Membangun Personal Branding
Setelah sempat vakum membuat konten Fikri mulai kembali membangun personal branding dirinya. Baginya, personal branding kini bukan sekadar soal terkenal, tetapi juga menjadi nilai tukar baru.
Dengan personal branding yang kuat, seseorang bisa memiliki daya tawar lebih besar. Peluang kerja, kolaborasi, dan bisnis dapat terbuka lebih luas ketika orang lain mengetahui kemampuan dan karakter profesional yang dimiliki.
“Banyakin konten biar punya personal branding. Itu aja,” katanya sederhana.
Menurut Fikri, konten bisa menjadi portofolio berjalan. Dari konten, orang bisa melihat kemampuan, gaya kerja, cara berpikir, dan bidang yang dikuasai. Meski sudah terlibat dalam banyak proyek, Fikri tidak ingin selamanya bekerja dalam pola yang sama. Ia memiliki target untuk membangun sumber penghasilan yang lebih mandiri. Baginya, tujuan jangka panjang bukan hanya bekerja terus-menerus, tetapi bisa memiliki kebebasan waktu dan finansial.
Ia ingin suatu hari nanti hidup dari sistem yang sudah ia bangun, bukan terus-menerus menukar waktu dengan pekerjaan.
Target itu menunjukkan bahwa perjalanan Fikri tidak berhenti pada posisi sebagai editor atau visual effect artist saja. Ia melihat karier sebagai proses panjang untuk membangun kemandirian.
Pesan Fikri: Jangan Takut Mulai, Tapi Jangan Malas Berkembang
Perjalanan Fikri dari seorang anak yang belajar animasi lewat YouTube, membuat karya di warnet, merender video berhari-hari, hingga masuk ke proyek besar dan bekerja dengan tim internasional membuktikan bahwa karier kreatif tidak dibangun dalam semalam.
Ada proses panjang, kegagalan, keterbatasan, tekanan, dan keberanian untuk terus mencoba.
Bagi mahasiswa, terutama yang ingin masuk ke industri kreatif digital, Fikri memberi pesan agar tidak hanya mengandalkan niat. Dunia kreatif membutuhkan skill, disiplin, kemampuan komunikasi, keberanian belajar, dan kemauan mengikuti perkembangan teknologi.
Industri ini terus berubah. Mereka yang berhenti belajar akan tertinggal. Namun, mereka yang mau beradaptasi akan selalu menemukan ruang untuk tumbuh.
Dari pilihan kedua bernama Ilmu Komunikasi, Fikri membuktikan bahwa jalan yang tidak direncanakan pun bisa membawa seseorang menuju panggung besar. Dari warnet, laptop rusak, komunitas kecil, hingga layar bioskop, ia menunjukkan bahwa mimpi besar sering kali dimulai dari keberanian kecil untuk mencoba. (Taufik Hidayah)